Putih dan Biru Seragamku
Hari Jadiku menjadi
anak seragam Merah Putih telah berakhir. Kini tiba saatnya aku menjadi anak
SMP. Berawal dari kelas VII aku yang belum bisa menerima kenyataanya bahwa
diriku telah terdaftar dan dinyatakan diterima atas nama ‘Arum Munafi’atul
Ulwiyyah’ tepat di MTs Al-Hikmah Pasir. Seakan-akan hidupku terasa gelap gulita
karena impianku untuk melanjuntkan masuk sekolah Negeri tak dapat dicapai,
bahkan KU merelakan diri mengurung di dalam kamar seharian penuh, sampai gak
inget sholat karena kebablasan molor. Semua aku lakukan mungkin karena
unsur keterpaksaan demi kedua orangtuaku, cause orang tuaku lebih
mendukung jika aku berada di lingkungan yang tergolong agamis.
Senja pagi itu, membuat hari pertamaku tak
bersemangat dan pasti membuat gaduh seisi rumah. Bangun kesiangan, makan masih
disuapin, bahkan aku menyuruh mbakku menata jilbab. Walau semua yang aku
kenakan itu barang baru, tapi bukan berarti menjadikanku Semangat baru. Aku
dibailang Cewek yang tergolong kahlangan MANJA berangkat dengan wajah muram,
tanpa senyuman. Sesampainya di Madrasah aku tak berkutik satupun dengan
teman-teman sembari aku melihat daftar nama-nama kelas. Suasana yang begitu
ramai, desak-desakan, bahkan sampai ada yang pingsan, aku pun menemukan nama
Arum Munafi’atul Ulwiyyah dalam daftar siswa yang masuk di kelas VII C. Tanpa
menunggu lama aku mencari ruang kelas VII C dan kelas tersebut berada di lantai
2, sasampainya di lantai 2 aku bingung mau masuk kelas mana, karena kelasnya
masih belum di tata rapi.
Aku terpaksa masuk
ruang kelas paling pinggir dari tangga, disitu aku duduk sendirian di bangku
paling depan. Sasaat kemudian, ada seorang cewek cantik yang menghampiriku.
Akhirnya akupun tak sendirian. Dengan senyum manisku, aku mengajak kenalan
dengan cewek yang mirip Cinta Laura itu.
“hai, siapa namamu?”
tanya aku. “aku Yuni, kamu arum kan?”jawab cewek cantik itu. Rupanya cewek yang
di bilang Cinta Laura itu sudah mengenalku. “kok kamu uda tau namaku?” aku
kembali bertanya. “iya, aku udah tau kamu, dulu waktu masih SD aku sering
belajar kelompok dengan Tiwi tetanggamu.” Jawab Yuni. Aku kembali bertanya.
“Oo, ternyata kamu Yuni, yang di bilang mirip sama Cinta Laura”. “hehe. Kata
orang sih” jawab Yuni sembari tersenyum malu-malu.
Tak lama kemudian ada
seorang Guru yang memberikan informasi pembagian kelas. Sudah ku duga bahwa
kelas yang akan ku tempati adalah kelas paling pojok. Mitosnya sih tergolong
kelas horor. Semoga saja tidak. Seperti biasa karena masih terbawa rasa SD.
Setiap hari pertama masuk sekolah, hal yang utama adalah rebutan mencari bangku
yang jelas bukan paling depan. Itulah adat anak-anak labil.
Dengan susah payah
aku mendesak teman-teman, akhirnya aku mendapatkan bangku yang paling aku suka
sejak TK yaitu bangku nomer dua. Kini aku tak sendiri lagi. Cewek yang bernama
panjang Sri Wahyuni sekarang sudah sah menjadi teman sebangkuku.
Selang beberapa
waktu, masuklah seorang Guru yang menurutku mirip dengan Mr. Bean. Lalu beliau
duduk, dan menyapa sumua anak-anak kelas VII C. Sepintas beliau mengajak
interksi dengan kami, sepatah dan banyak kata yang beliau katakan tak disangka
beliau yg katanya mirip Mr. Bean adalah Wali kelas VII C.
bersambung…..

Wkwwkk cinta laura dari desa
BalasHapus